oleh

KPK Periksa Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto

-Berita, Hukrim-145 views

JAKARTA, BERITA INDONESIA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto dipanggil KPK terkait kasus suap penetapan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR 2019-2024. Hasto datang memenuhi panggilan KPK.

Dia mengaku akan dimintai keterangan seputar kasus dugaan suap terhadap mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan terkait pergantian antar-waktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024. Namun Hasto belum mau terbuka terkait pemeriksaannya ini. Dia berjanji, usai menjalani pemeriksaan, akan kembali menemui awak media dan memberikan pernyataan.

“Hari ini saya memenuhi tanggung jawab warga negara dalam menjaga marwah KPK, memenuhi undangan untuk hadir sebagai saksi,” kata Hasto di Gedung Merah Putih KPK, di jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020).

Kasus yang membuat Hasto diperiksa ini berawal dari OTT KPK pada Rabu (8/1). Dari OTT tersebut ada 4 tersangka yang ditetapkan, yaitu Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina, Harun Masiku,dan Saeful.

Wahyu Setiawan merupakan Komisioner KPU, sedangkan Agustiani Tio Fridelina disebut sebagai orang kepercayaan Wahyu Setiawan. Wahyu diduga meminta fee sebesar Rp 900 juta untuk meloloskan Harun Masiku, namun Wahyu baru menerima uang Rp 200 juta dari total Rp 400 juta, sisanya Rp 200 juta diduga dipergunakan oleh pihak lain.

Harun Masiku yang merupakan kader PDIP disangkakan oleh KPK memberikan suap ke Wahyu Setiawan terkait Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR dari PDIP yang meninggal dunia, yaitu Nazarudin Kiemas. Nama Harun Masiku disebut didorong DPP PDIP untuk menggantikan Nazarudin.

Sedangkan  Saeful hanya disebut KPK sebagai swasta. KPK menjerat Saeful dan Harun Masiku sebagai pemberi suap, sedangkan Wahyu dan Agustiani adalah penerima suap.

Keberadaan Harun yang masih misterius menimbulkan banyak spekulasi, Harun sendiri melakukan perjalan ke luar negeri menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 832 dari Bandar Udara Soekarno-Hatta menuju Bandara Changi, Singapura, pada 6 Januari lalu.

Sehari kemudian, Harun kembali dari Singapura menumpang pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 7156. Pesawat dengan nomor registrasi PK-LAW ini terbang pada pukul 16.35 waktu setempat dari Gate A16 Bandara Changi.

Informasi keberadaan Harun di Indonesia dibantah oleh pihak Imigrasi yang bahkan diback up oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, yang dengan tegas menyatakan sejak pergi ke Singapura pada 6 Januari lalu, Harun belum kembali ke Indonesia.

Yasonna Laoly berdalih, kesalahan pelaporan itu disebabkan gangguan sistem informasi. “I swear to God, itu karena error,” kata Yasonna

 

 

 

Editor : Irawan

Breaking News